harapan semua insan adalah kesuksesan kita semua berharap semoga kita sukses amin..
Sabtu, 31 Maret 2012
LAPORAN
EPIDEMOLOGI
KELOMPOK 11

DI SUSUN OLEH
|
NAMA
|
NIM
|
|
ZULKARNAIN
|
: B1A 009 064
|
|
SOPYAN HADI
|
: B1A 009 112
|
|
TIYAS TIYANDARI
|
: B1B 009 019
|
|
FERY ANGGRIAWAN
|
:B1C 009 030
|
|
WIRHAM
|
: B1A 009 111
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS MATARAM
MATARAM
2012
I

LEPTOSPIROSIS ATAU PENYAKIT
WEIL,
DEMAM
PESAWAH (RICEFIELD FEVER),
DEMAM PEMOTONG TEBU
(CANE-CUTTER
FEVER), DEMAM LUMPUR,
JAUNDIS BERDARAH, PENYAKIT STUTTGART,
DEMAM CANICOLA, PENYAKIT
KUNING NON-VIRUS,
PENYAKIT AIR MERAH PADA
ANAK SAPI, DAN
TIFUS ANJING
|
|
|
II
PENDAHULUAN
Leptospirosis adalah penyakit zoonosis
yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen yang dikenal dengan nama Leptosira
Interrogans . Penyakit ini pertama kali dikemukakan oleh Weil pada tahun 1886
sebagai penyakit yang berbeda dengan penyakit lain yang juga ditandai oleh
ikterus.
Gejala penyakit ini
sangat bervariasi mulai dari gejala infeksi ringan sampai dengan gejala infeksi
berat dan fatal. Dalam bentuk ringan, leptospirosis
dapat menampilkan gejala seperti influenza disertai nyeri kepala dan mialgia.
Dalam bentuk parah (disebut sebagai Weil¶s syndrome), leptospirosis secara khas menampilkan
gejala ikterus, disfungsi renal, dan diatesis hemoragika.
Diagnosis leptospirosis seringkali terlewatkan sebab gejala klinis
penyakit ini tidak spesifik dan sulit dilakukan konfirmasi diagnosis tanpa uji laboratorium. Dalam
dekade belakangan ini, kejadian luar biasa leptospirosis
di beberapa negara, seperti Asia, Amerika Selatan dan Tengah, serta Amerika
Serikat menjadikan penyakit ini termasuk dalam the emerging infectious diseases
III
ETIOLOGI
- Leptospirosis
Leptospirosis disebabkan oleh genus
leptospira, famili treponemataceae, suatu mikroorganisme spirocheata. Secara
sederhana, genus leptospira terdiri atas dua spesies yaitu L.interrogans yang
patogen dan L. biflexa yang hidup bebas (non patogen atau saprofit). Spesies L.interrogans
dibagi menjadi beberapa serogrup dan serogrup ini dibagi menjadi banyak serovar
menurut komposisi antigennya. Saat ini telah ditemukan lebih dari 250 serovar
yang tergabung dalam 23. Beberapa serovar L.interrogans yang dapat menginfeksi
manusia di antaranya adalah L. Icterohaemorrhagiae, L.manhao L. Javanica, L.
bufonis, L. copenhageni, dan lain-lain. Serovar yang paling sering menginfeksi
manusia ialah L. icterohaemorrhagiae dengan reservoir tikus, L. canicola dengan
reservoir anjing, L. pomona dengan reservoir sapi dan babi
IV
EPIZOOTIOLOGI
a.
Kejadian di
Indonesia
Ø Leptospirosis
Organisasi Kesehatan Dunia (World
Health Oraganization/WHO) mencatat, kasus Leptospirosis di daerah beriklim
subtropis diperkirakan berjumlah 0.1-1 per 100.000 orang setiap tahun,
sedangkan di daerah beriklim tropis kasus ini meningkat menjadi lebih dari 10
per 100.000 orang setiap tahun. Pada saat wabah, sebanyak lebih dari
100 orang dari kelompok berisiko tinggi di antara 100.000 orang dapat
terinfeksi.
Di Indonesia,
Leptospirosis tersebar antara lain di Provinsi Jawa Barat,
Jawa Tengah,
Daerah
Istimewa Yogyakarta, Lampung, Sumatera
Selatan, Bengkulu, Riau, Sumatera Barat, Sumatera
Utara, Bali,
NTB, Sulawesi
Selatan, Sulawesi Utara, Kalimantan
Timur dan Kalimantan Barat. Angka kematian Leptospirosis
di Indonesia termasuk tinggi, mencapai 2,5-16,45 persen. Pada
usia lebih dari 50 tahun kematian mencapai 56 persen. Di beberapa publikasi
angka kematian dilaporkan antara 3 persen - 54 persen tergantung sistem organ yang terinfeksi
b. Hewan Yang Rentan
Ø Leptospirosis
adalah :
- kucing
- tikus merupakan reservoir dan sekaligus penyebar utama Leptospirosis
- manusia
- Beberapa hewan lain seperti sapi, kambing, domba, kuda, babi, anjing dapat terserang Leptospirosis, tetapi potensi menularkan ke manusia tidak sebesar tikus
c. Cara Penularan
Ø
Leptospirosis
Leptospirosis merupakan penyakit yang
dapat ditularkan melalui air
(water borne disease). Urin (air kencing) dari individu yang terserang penyakit ini
merupakan sumber utama penularan, baik pada manusia maupun pada hewan.
Kemampuan Leptospira untuk bergerak dengan cepat dalam air menjadi salah satu
faktor penentu utama ia dapat menginfeksi induk semang (host) yang baru.
Hujan
deras akan membantu penyebaran penyakit ini, terutama di daerah banjir. Gerakan
bakteri memang tidak memengaruhi kemampuannya untuk memasuki jaringan tubuh
namun mendukung proses invasi dan penyebaran di dalam aliran darah induk
semang.
Di Indonesia, penularan paling sering
terjadi melalui tikus pada kondisi banjir. Keadaan banjir menyebabkan adanya
perubahan lingkungan
seperti banyaknya genangan air, lingkungan menjadi becek, berlumpur,
serta banyak timbunan sampah yang menyebabkan mudahnya bakteri Leptospira
berkembang biak. Air kencing tikus terbawa banjir kemudian masuk ke tubuh
manusia melalui permukaan kulit yang terluka, selaput lendir mata dan hidung. Sejauh
ini tikus merupakan reservoir dan sekaligus penyebar utama Leptospirosis karena
bertindak sebagai inang alami dan memiliki daya reproduksi
tinggi. Beberapa hewan lain seperti sapi, kambing, domba, kuda,
babi, anjing dapat
terserang Leptospirosis, tetapi potensi menularkan ke manusia tidak sebesar
tikus.
Bentuk penularan Leptospira
dapat terjadi secara langsung dari penderita ke penderita dan tidak langsung
melalui suatu media. Penularan langsung terjadi melalui kontak dengan selaput
lendir (mukosa) mata
(konjungtiva), kontak luka di kulit, mulut, cairan urin, kontak seksual dan
cairan abortus (gugur kandungan). Penularan dari manusia ke
manusia jarang terjadi.
proses penularan

V
PENGENALAN PENYAKIT
- gejala Penyakit
Ø
Leptospirosis
Pada hewan
Pada hewan, Leptospirosis
kadangkala tidak menunjukkan gejala klinis (bersifat subklinis), dalam arti
hewan akan tetap terlihat sehat walaupun sebenarnya dia sudah terserang
Leptospirosis. Kucing yang terinfeksi biasanya tidak menunjukkan gejala
walaupun ia mampu menyebarkan bakteri ini ke lingkungan untuk jangka waktu yang
tidak pasti.
Gejala
klinis yang dapat tampak yaitu ikterus atau jaundis, yakni warna kekuningan,
karena pecahnya butir darah merah (eritrosit)
sehingga ada hemoglobin dalam urin. Gejala ini terjadi pada 50
persen kasus, terutama jika penyababnya L. pomona. Gejala lain yaitu demam,
tidak nafsu makan, depresi, nyeri pada bagian-bagian tubuh, gagal ginjal,
gangguan kesuburan, dan kadang kematian.
Apabila penyakit ini menyerang ginjal atau hati secara akut maka gejala yang
timbul yaitu radang mukosa
mata (konjungtivitis), radang
hidung
(rhinitis), radang tonsil (tonsillitis),
batuk
dan sesak napas.
Pada
babi
muncul gejala kelainan saraf,
seperti berjalan kaku dan berputar-putar. Pada anjing yang sembuh dari infeksi
akut kadangkala tetap mengalami radang ginjal
interstitial kronis
atau radang hati
(hepatitis)
kronis. Dalam keadaan demikian gejala yang muncul yaitu penimbunan cairan di abdomen
(ascites), banyak minum, banyak urinasi, turun berat badan dan gejala saraf.
Pada sapi,
infeksi Leptospirosis lebih parah dan lebih banyak terjadi pada pedet
dibandingkan sapi dewasa dengan gejala demam, jaundis, anemia,
warna telinga maupun hidung yang menjadi hitam, dan kematian (Bovine
Leptospirosis).
Angka kematian (mortalitas) akibat Leptospirosis pada hewan mencapai 5-15
persen, sedangkan angka kesakitannya (morbiditas) mencapai lebih dari 75 persen
Manusia
Gejala
dimulai dengan demam menggigil, pegal linu (terutama betis dan punggung), nyeri
kepala, nyeri tenggorokan, batuk kering, mual-muntah, sampai mencret-mencret.
Ini terjadi di awal masa inkubasi. Pada masa stadium lanjut, akan muncul gejala
seperti penyakit kuning. Ini dikarenakan leptospira telah menyerang hati.
Gejalanya kulit dan putih mata menjadi kekuningan, mata merah layaknya sedang
sakit mata, adakalanya disertai pendarahan, dan kulit pun meruam merah. Jika
diperiksa dengan stetoskop, dokter akan mendengarkan bunyi paru-paru yang
abnormal. Komplikasi ke selaput otak bisa menimbulkan gejala nyeri kepala,
kejang-kejang, leher kaku, dan penurunan kesadaran.
Perjalanan
penyakit Leptospira terdiri dari 2 fase, yaitu fase septisemik dan fase
imun. Pada periode peralihan fase selama 1-3 hari kondisi penderita
membaik. Selain itu ada Sindrom Weil yang merupakan bentuk infeksi
Leptospirosis yang berat.
Fase
Septisemik dikenal sebagai fase awal atau fase
leptospiremik karena bakteri dapat diisolasi dari darah, cairan
serebrospinal dan sebagian besar jaringan tubuh. Pada stadium
ini, penderita akan mengalami gejala mirip flu selama 4-7 hari, ditandai dengan
demam, kedinginan, dan kelemahan otot.
Gejala lain adalah sakit tenggorokan,
batuk, nyeri dada,
muntah darah,
nyeri kepala,
takut
cahaya,
gangguan mental, radang selaput otak
(meningitis),
serta pembesaran limpa
dan hati
Fase
Imun
sering disebut fase kedua atau leptospirurik karena sirkulasi antibodi
dapat dideteksi dengan isolasi kuman dari urin,
dan mungkin tidak dapat didapatkan lagi dari darah atau cairan serebrospinalis.
Fase ini terjadi pada 0-30 hari akibat respon pertahanan tubuh terhadap
infeksi. Gejala tergantung organ tubuh yang terganggu seperti selaput otak,
hati, mata atau ginjal.
- masa inkubasi
Ø
Leptospirosis
Masa
inkubasi Leptospirosis pada hewan yaitu 4 – 19 hari.
Masa inkubasi Leptospirosis pada manusia
yaitu 2 - 26 hari
- Kelainan pasca mati
Ø
Leptospirosis
1. Bisa
terjadi kerusakan hati setelah di bedah
2. Pada
infeksi akut dan setelah mati, ginjal dan / atau hati dapat swol- len, dan
perdarahan dapat ditemukan dalam setiap organ. Lesi terkait dengan uremia akut
juga dapat dilihat. Dalam chroni- Cally anjing terinfeksi, mungkin ada abu-abu
atau putih fokus dan / atau coretan di ginjal dan hati
3. empedu mungkin mengandung empedu hitam inspissated
Gambar
; akibat penyakit leptospirosis sebelum mati
|
Sebelum
mati pada hewan
|
Sebelum
mati pada manusia
|
![]() |
![]() |
GAMBAR: akibat penyakit leptospirosis pasca mati
|
Pasca mati pada hewan
|
Pasca mati pada manusia
|
![]() |
|
- Diagnosa laboratorium
Ø
Leptospirosis
Diagnosa
laboratorium dapat dilakukan pemeriksaan urin dan darah. Pemeriksaan urin
sangat bermanfaat untuk mendiagnosa Leptospirosis karena bakteri Leptospira
terdapat dalam urin sejak awal penyakit dan akan menetap hingga minggu ketiga. Cairan tubuh lainnya yang
mengandung Leptospira adalah darah, serebrospinal tetapi rentang peluang untuk isolasi bakteri
sangat pendek. Selain itu dapat dilakukan isolasi bakteri Leptospira
dari jaringan lunak atau cairan tubuh penderita, misalnya jaringan hati, otot,
kulit dan mata. Namun, isolasi Leptospira termasuk sulit dan membutuhkan
waktu beberapa bulan.
Untuk
mengukuhkan diagnosa Leptospirosis biasanya dilakukan pemeriksaan serologis. Antibodi
dapat ditemukan di dalam darah pada hari ke-5-7 sesudah adanya gejala klinis. Kultur atau
pengamatan bakteri Leptospira di bawah mikroskop
berlatar gelap umumnya tidak sensitif.
Tes serologis untuk mengkonfirmasi infeksi Leptospirosis yaitu Microscopic
agglutination test (MAT).
Tes ini mengukur kemampuan serum darah pasien untuk mengagglutinasi
bakteri Leptospira yang hidup. Namun, MAT tidak dapat digunakan secara
spesifik pada kasus yang akut, yakni kasus yang terjadi secara cepat dengan gejala
klinis yang parah. Selain itu, diagnosa juga dapat dilakukan melalui pengamatan
bakteri Leptospira pada spesimen organ yang terinfeksi
menggunakan imunofloresen.
e. Diagnosa banding
Ø
Leptospirosis
Leptospirosis
anikterik dapat di diagnosis banding
dengan influenza, demam berdarah dengue, malaria, pielonefritis, meningitis
aseptik viral, keracunan makanan/bahan kimia, demam tifoid, demam enterik. Leptospirosis ikterik dapat di diagnosis banding dengan malaria falcifarum berat, hepatitis
virus, demam tifoid dengan komplikasi berat, haemorrhagic fevers with renal
failure, demam berdarah virus lain dengan komplikasi
VI
TINDAKAN
a. Secara administratif
Ø leptospirosis
identitas pasien, keluhan yang dirasakan dan data
epidemiologis penderita harus jelas karena berhubungan dengan lingkungan
pasien. Identitas pasien ditanyakan : nama, umur, jenis kelamin, tempat
tinggal, jenis pekerjaan, dan jangan lupa menanyakan hewan peliharaan maupun
hewan liar di lingkungannya, karena berhubungan dengan leptospirosis. Biasa yang mudah
terjangkit pada usia produktif, karena kelompok ini lebih banyak aktif di
lapangan. Tempat tinggal; dari alamat dapat diketahui apakah tempat tinggal termasuk
wilayah padat penduduk, banyak pejamu reservoar, lingkungan yang sering
tergenang air maupun lingkungan kumuh. Kemungkinan infeksi leptospirosis cukup besar pada musim
pengujan lebih-lebih dengan adanya banjir. Keluhan-keluahan khas yang dapat
ditemukan, yaitu : demam mendadak, keadaan umum lemah tidak berdaya, mual,
muntah, nafsu makan menurun dan merasa mata makin lama bertambah kuning dan
sakit otot hebat terutama daerah betis dan paha.
b.
Pencegahan
Ø leptospirosis
Pada
Hewan
Pencegahan
penularan kuman leptospira dapat dilakukan melalui tiga jalur intervensi yang
meliputi intervensi sumber infeksi, intervensi pada jalur penularan dan
intervensi pada hewan. Kuman leptospira mampu bertahan hidup bulanan di air dan
tanah, dan mati oleh desinfektans seperti lisol. Maka upaya ´Lisolisasi´ upaya
"lisolisasi" seluruh permukaan lantai , dinding, dan bagian kandang
yang diperkirakan tercemar air kotor banjir yang mungkin sudah berkuman
leptospira, dianggap cara mudah dan murah mencegah "mewabah"-nya leptospirosis.
Pada
Manusia
Sebaiknya
menggunakan alas kaki yang memadai serta sarung tangan saat berkebun,
membersihkan tempat air dan kolam renang secara rutin, menghindari tikus
didalam rumah/ gedung, menyemprotkan disinfektan ke tempat yang tercemar tikus,
dan jauhkan tikus dari rumah kita. Agar penyakit ini tidak semakin meraja rela
kemana-mana. Selain itu jika mengalami luka atau lecet, tutuplah dengan
pembalut yang kedap air. Pakai sarung tangan jika menangani binatang, kemudian
segera mandi setelah selesai. Dan jika memelihara binatang, ikuti anjuran
dokter hewan saat memberikan vaksin pada hewan tersebut.
c.
Pengobatan
Ø leptospirosis
Pada Hewan
Pengobatan
pada hewan terutama hewan kesayangan, yang terinfeksi parah perlu diberikan
perawatan intensif untuk menjamin kesehatan
masyarakat
dan mengoptimalkan perawatan. Antibiotik
yang dapat diberikan yaitu doksisiklin, enrofloksasin, ciprofloksasin atau
kombinasi penisillin-streptomisin. Selain itu diperlukan terapi suportif dengan
pemberian antidiare,
antimuntah, dan infus.
Pencegahan dapat
dilakukan dengan memberikan vaksin
Leptospira. Vaksin Leptospira untuk hewan
adalah vaksin inaktif dalam bentuk cair (bakterin) yang sekaligus bertindak
sebagai pelarut
karena umumnya vaksin Leptospira dikombinasikan dengan vaksin lainnya,
misalnya distemper dan hepatitis. Vaksin Leptospira pada anjing
yang beredar di Indonesia terdiri atas dua macam serovar yaitu L. canicola
dan L. ichterohemorrhagiae. Vaksin Leptospira pada anjing
diberikan saat anjing berumur 12 minggu dan diulang saat anjing berumur 14-16
minggu. Sistem kekebalan sesudah vaksinasi bertahan selama 6 bulan, sehingga
anjing perlu divaksin lagi setiap enam bulan.
Pada Manusia
Leptospirosis
yang ringan dapat diobati
dengan antibiotik doksisiklin, ampisillin, atau
amoksisillin. Sedangkan Leptospirosis yang berat dapat diobati dengan
penisillin G, ampisillin, amoksisillin dan eritromisin.
Manusia
rawan oleh infeksi semua serovar Leptospira sehingga manusia harus
mewaspadai cemaran urin dari semua hewan. Perilaku hidup sehat dan bersih
merupakan cara utama untuk menanggulangi Leptospirosis tanpa biaya. Manusia
yang memelihara hewan kesayangan hendaknya selalu membersihkan diri dengan antiseptik
setelah kontak dengan hewan kesayangan, kandang, maupun lingkungan di mana
hewan berada.
Manusia
harus mewaspadai tikus
sebagai pembawa utama dan alami penyakit ini. Pemberantasan tikus terkait
langsung dengan pemberantasan Leptospirosis. Selain itu, para peternak babi
dihimbau untuk mengandangkan ternaknya jauh dari sumber air. Feses
ternak
perlu diarahkan ke suatu sumber khusus sehingga tidak mencemari lingkungan
terutama sumber air.
I

MILK FIVER(PARESIS PUERPERALIS) ATAU DEMAM SUSU, HYPOCALCEMIA
POSTPARTURIENT, ATAU PARESIS
NIFAS
II
PENDAHULUAN
Milk
fever adalah penyakit gangguan metabolisme yang terjadi pada sapi betina
menjelang/saat/sesudah melahirkan yang menyebabkan sapi menjadi lumpuh.
Milk Fever ditandai dengan menurunnya kadar kalsium (Ca) dalam darah
(Horst et al. 1997). Ca berperan penting dalam fungsi system syaraf.
Jika kadar Ca dalam darah berkurang drastis, maka pengaturan sistem syaraf akan
terganggu, sehingga fungsi otak pun terganggu dan sapi akan mengalami
kelumpuhan. Kasus milk fever terjadi pada 48 – 72 jam setelah
sapi melahirkan, sapi yang mengalami gangguan ini biasanya sapi yang
telah beranak lebih dari tiga kali. Sapi berumur 4 tahun dan produksi tinggi
(lebih dari 10 liter) lebih rentan mengalami milk fever. Selain itu,
angka kejadian milk fever 3-4 kali lebih tinggi pada sapi yang
dilahirkan dari induk yang pernah mengalami milk fever.
III
ETIOLOGI
Milk fever
Gangguan sistim syaraf
Alergi
Gangguan neuromuskuler
Penyakit turunan
Ketuaan
Penyakit infeksi
Defisiensi pakan ; Ca, P, vit A, vitamin D dan protein
Hardjopranjoto
(1995) mengatakan bahwa ada beberapa teori, mengapa sapi perah yang baru
melahirkan dan produksi susu tinggi sering terjadi hipocalcaemia sehingga
mendorong terjadinya kasus paresis puerpuralis.
- Hormon parathyroid yang kadarnya mengalami penurunan dalam darah (defisiensi), karena stres kelahiran dapat mengganggu keseimbangan mineral dalam darah khususnya kalsium disusul adanya hipokalcaemia dan selanjutnya timbul kasus paresis puerpuralis. Berkurangnya aktivitas parathormon pada saat kelahiran disebabkan oleh defisiensi vitamin D.
- Stres melahirkan menyebabkan hormon tirokalsitonin yang mengatur glukosa usus dalam menyerap mineral kalsium dari pakan menurun dan mempengaruhi kadar kalsium dalam darah. Bila hormon tirokalsitonin menurun dapat diikuti menurunnya kadar kalsium dalam darah. Hormon tirokalsitonin atau kalsitonin dihasilkan oleh sel ultimobranchial C dari kelenjar tiroid.
- Waktu proses kelahiran, kalsium dibutuhkan terlalu banyak oleh air susu, khususnya dalam kolostrum. Kebutuhan ini dapat dicukupi dari ransum pakan ternak, dari tulang dalam tubuh induk atau dari darah. Rendahnya penyerapan kalsium dalam ransum pakan atau absorbsi kalsium dalam saluran pencernaan, dapat disebabkan adanya gangguan pada dinding usus. Penurunan nafsu makan pada induk yang sedang bunting mengakibatkan masuknya bahan pakan menurun, menyebabkan penyediaan kalsium dalam alat pencernaan yang rendah diikuti oleh penyerapan kalsium juga rendah. Daya menyerap dinding usus terhadap kalsium dapat menurun pada induk sapi yang sudah tua. Pada sapi yang masih muda 80% kalsium dalam usus dapat diserap, makin tua umurnya makin menurun daya serap usus terhadap kalsium, karena pH usus yang tinggi dan kadar lemak yang tinggi dalam makanan dapat menghambat penyerapan kalsium. Pada sapi yang sudah tua, penyerapan kalsium hanya mencapai 15% dari kalsium yang ada dalam pakan.
- Persediaan kalsium dalam tulang yang dapat dimobilisasi, bervariasi menurut umur sapi. Pada anak sapi, 6-20% kebutuhan normal akan kalsium dapat disediakan oleh tulang, sedang pada sapi yang telah tua kemampuan tulang dalam menyediakan kalsium hanya 2-5%.
- Vitamin D berperan dalam menimbulkan kasus paresis puerpuralis. Gangguan terhadap produksi pro vitamin D dalam tubuh dapat mengurangi tersedianya vitamin D dan dapat mendorong terjadinya penyakit ini, karena vitamin D mengatur keseimbangan kalsium dan posfor dalam tubuh dan proses deposisi atau mobilisasi kalsium dari tulang yang masih muda. Vitamin D yang aktif di dalam metabolisme kalsium dan fosfor adalah vitamin D3 (25-Hydroxycholecalciferol).
- Hormon estrogen dan steroid yang lain baik yang dihasilkan oleh plasenta maupun kelenjar adrenal bagian korteks dapat menurunkan penyerapan kalsium dari usus atau mobilisasi kalsium dari tulang muda. Pada sapi bunting aktifitas estrogen plasma meningkat sampai satu bulan sebelum melahirkan. Peningkatan berlangsung dengan cepat satu minggu sebelum melahirkan untuk kemudian menurun tajam 24 jam sebelum melahirkan.
Hardjopranjoto
(1995) mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempermudah terjadinya paresis
puerpuralis yaitu :
- Produksi susu tinggi. Sapi perah yang mempunyai produksi susu yang tinggi membutuhkan kalsium dari darah untuk produksi susu yang tinggi. Akibatnya kadar kalsium dalam darah dalam waktu singkat menjadi rendah (hypocalcaemia), diikuti gejala paresis puerpuralis.
- Umur. Produksi susu secara normal, grafiknya akan meningkat mulai laktasi keempat sampai umur-umur berikutnya dan diikuti dengan kebutuhan kalsium yang meningkat pula. Sedangkan kemampuan mukosa usus untuk menyerap kalsium makin tua umurnya makin menurun.
- Nafsu makan. Pada kira-kira 8-16 jam sebelum partus induk sapi akan menurun nafsu makannya swampai pada tidak mau makan sama sekali. Hal ini mengakibatkan persediaan kalsium dalam pakan yang siap dicerna menjadi menurun, akibatnya kekurangan kalsium diambil dari darah sehingga kalsium dalam darah menjadi turun dan diikuti oleh hypocalcaemia. Penurunan nafsu makan mungkin juga disebabkan meningkatnya kadar estrogen dalam darah pada fase terakhir dari kebuntingan menjelang terjadinya kelahiran. Keadaan ini dapat mengganggu keseimbangan kalsium dalam tubuh sehingga kadar kalsium dalam darah merosot dari keadaan normal yaitu 9-12 mgram persen menjadi 4-5 mgram persen.
d.
Ransum makanan. Ransum yang baik adalah bila
imbangan antara Ca dan P mempunyai perbandingan 2 dan 1. Ransum pakan
semacam ini adalah ransum yang dianjurkan sapi untuk sapi perah menjelang
partus.
IV
EPIZOOTIOLOGI
- Kejadian di Indonesia
Ø Milk
fever
Di indonesia milk fever sering
terjadi karena proses pemeliharaan dalam hal pakan pemberian meneral belum
sepenuh nya memadai dan di perhatikan namun data yang mencatan jumlah angka
kejadian penyakit ini di indonesia masih kurang. kejadian penyakit ini sering
terjadi pada ternak yang peternak nya tidak teratur dalam pemberian
nutrisi,mengontrol kesehatan ternak ini sering terjadi di peternakan
tradisional.
B. Hewan Yang Rentan
Ø Milk fever
- Sapi perah
- Babi
- Kerbau
- Dan sebagian besar ternak menyusui
C. Cara Penularan
Ø Milk
fever
Penyakit ini tidak
menular karena merupakan penyakit metabolisme dan penyakit ini hanya terjadi
pada ternak-ternak menyusui. ketika permintaan untuk kalsium untuk produksi
susu melebihi kemampuan tubuh untuk memobilisasi cadangan kalsium maka penyakit
ini akan timbul namun penyakit ini bisa menjadi penyakit turunan.
V
PENGENALAN PENYAKIT
A. gejala Penyakit
Ø Milk fever
Pada awal penyakit hewan mula-mula terlihat gelisah, ketakutan dan nafsu
makan menghilang. Kemudian terlihat gangguan pengeluaran air kemih dan
tinja. Kadang-kadang terlihat tremor dan hipersensitivitas urat daging di
kaki belakang dan kepala (Girindra 1988). Hardjopranjoto (1995) mengatakan
gejala pertama yang terlihat pada penderita dalah induk sapi mengalami
sempoyongan waktu berjalan atau berdiri dan tidak adanya koordinasi gerakan dan
jatuh. Biasanya hewan itu selalu berusaha untuk berdiri. Bila pada
stadium ini induk sapi dapat diadakan pengobatan gejala paresis tidak akan
muncul. Bila pengobatan belum dilakukan gejala berikutnya adalah induk
sapi penderita berbaring dengan pada sebelah sisinya atau pada tulang dada (sternal
recumbency) dan diikuti dengan mengistirahatkan kepalanya dijulurkan ke
arah atas kedua kaki depan atau kepala diletakkan disebelah sisi dari
tubuh diatas bahu/scapula (kurva S) namun ada juga yang tidak disertai
kurva S. Matanya mejadi membelalak dan pupilnya berdilatasi, kelihatan
anoreksi, moncongnya kering dan suram, hewan tidak peka terhadap sakit dan
suara, suhu rektal umumnya sub normal walaupun terkadang masih dalam batas
normal, rumen dan usus mengalami atoni, anggota badan dingin, denyut jantung
meningkat, defekasi terhambat dan anus relaksasi. Bila pengobatan ditunda
beberapa jam kemudian induk berubah menjadi tidak sadarkan diri dan kalau tidak
ada pertolongan hewan bertambah depresi urat daging melemah dan berbaring
dengan posisi lateral (tahap komstose). Hewan tidak dapat bangun lagi dan
akibat gangguan berbaring terus terjadi timpani. Pulsa meningkat
(sampai lebih dari 120 x), pupil mata berdilatasi, kepekaan terhadap
cahaya menghilang dan akhirnya beberapa jam terjadi kematian.
Subronto (2001)
mengatakan bahwa gambaran klinis milk fever yang dapat diamati tergantung pada
tingkat dan kecepatan penurunan kadar kalsium di dalam darah.
Dikenal 3 stadia gambaran klinis yaitu
stadium prodromal, berbaring (rekumbent) dan stadium koma.
1. Stadium
1 (stadium prodromal). Penderita jadi gelisah dengan ekspresi muka yang
tampak beringas. Nafsu makan dan pengeluaran kemih serta tinta
terhenti. Meskipun ada usaha untuk berak akan tetapi usaha tersebut tidak
berhasil. Sapi mudah mengalami rangsangan dari luar dan bersifat
hipersensitif. Otot kepala maupun kaki tampak gemetar. Waktu
berdiri penderita tampak kaku, tonus otot alat-alat gerak meningkat dan bila
bergerak terlihat inkoordinasi. Penderita melangkah dengan berat, hingga
terlihat hati-hati dan bila dipaksa akan jatuh, bila jatuh usaha bangun
dilakukan dengan susah payah dan mungkin tidak akan berhasil.
2. Stadium
2 (stadium berbaring/recumbent). Sapi sudah tidak mampu berdiri,
berbaring pada sternum dengan kepala mengarah ke belakang hingga dari belakang
seperti huruf S. Karena dehidrasi kulit tampak kering, nampak lesu, pupil
mata normal atau membesar dan tanggapan terhadap rangsangan sinar jadi lambat
atau hilang sama sekali. Tanggapan terhadap rangsangan rasa sakit juga
berkurang, otot jadi kendor, spincter ani mengalami relaksasi, sedang reflek
anal jadi hilang dengan rektum yang berisi tinja kering atau setengah
kering. Pada stadium ini penderita masih mau makan dan proses ruminasi
meskipun berkurang intensitasnya masih dapat terlihat. Pada tingkat
selanjutnya proses ruminasi hilang dan nafsu makan pun hilang dan penderita
makin bertambah lesu. Gangguan sirkulasi yang mengikuti akan terlihat
sebagai pulsus yang frekuen dan lemah, rabaan pada alat gerak terasa dingin dan
suhu rektal yang bersifat subnormal.
3. Stadium
3 (stadium koma). Penderita tampak sangat lemah, tidak mampu bangun dan
berbaring pada salah satu sisinya (lateral recumbency). Kelemahan
otot-otot rumen akan segera diikuti dengan kembung rumen. Gangguan
sirkulasi sangat mencolok, pulsus jadi lemah (120 x/menit), dan suhu tubuh
turun di bawah normal. Pupil melebar dan refleks terhadap sinar telah
hilang. Stadium koma kebanyakan diakhiri dengan kematian, meskipun
pengobatan konvensional telah dilakukan.
B. masa inkubasi
Ø
Milk
fever
Masa
inkubasi yaitu 5 hari
C. Kelainan pasca mati
Ø
Milk
fever
1.
Bangkai cepat busuk, sepsis, menggembung
2.
Biasa nya tidak ada darah yang keluar
3.
Ambing masih membesar
GAMBAR:
akibat penyakit milk fiver sebelum mati dan pasca mati
|
Sebelum mati
|
Paska mati
|
![]() |
![]() |
D. Diagnosa laboratorium
Ø
Milk
fever
Pemeriksaan
penunjang yang perlu dilakukan terhadap sapi ini adalah melakukan pemeriksaan
darah. Darah dapat diambil lewat vena jugularis. Darah yang diambil
diperiksa terhadap kadar kalsium darah. Kalsium dalam serum dapat diukur
dengan metoda sangat sederhana sampai metoda yang mutakhir. Yang termasuk
sederhana ialah dengan metoda Clark&Collib yang menggunakan KmnO4
untuk titrasi. Lainnya ialah dengan metoda “kolorimetri sederhana”,
berdasarkan intensitas warna yang kemudian dibandingkan dengan warna
standar. Sekarang sering dilakukan uji untuk menentukan kadar kalsium
mengion. Dalam hal ini dipakai suatu elektroda yang bersifat khas untuk
ion kalsium. Lain dari itu kadar kalsium dalam darah dapat pula
ditentukan dengan “Atomic absorption spectroscopy” (Girindra 1988).
Subronto (2001) mengatakan bahwa pemeriksaan kadar kalsium dalam darah
dilapangan adalh menurut cara Herdt (1981) dimana peralatan yang dibutuhkan
yaitu tabung rekasi 12 ml dengan kalibrasi 2,3,5,7 dan 10 ml, karutan EDTA
1,9%, alat suntik tuberkulin dan water bath. Cara pemeriksaannya yaitu ke
dalam semua tabung reaksi dimasukkan EDTA sebanyak 0.1 ml. Darah sebanyak
35 ml diambil dari vena jugularis dengan cepat dan dimasukkan ke dalam 5 tabung
sampai pada batas kalibrasi. Setelah ditutup dikocok kuat-kuat dimasukkan
ke dalam water bath dengan suhu 1150 F (46.10 C) dan
diamati selama 15 dan 20 menit. Setelah waktu tersebut rak diangkat dan
jumlah tabung yang darahnya menggumpal dihitung. Pada kasus di lapangan
tidak dilakukan pengecekan darah untuk melihat kadar Ca, Mg dan P.
E. Diagnosa banding
Ø
Milk fiver
Diagnosa banding perlu diadakan karena
banyak penyakit atau keadaan yang dapat menyerupai paresis puerpuralis,
sehingga dapat mengaburkan diagnosa yang bisa terjadi sebelum atau sesudah
partus. Jika kejadian kelumpuhan terjadi sebelum partus kemungkinan
penyakit pembandingnya diantaranya metritis septika, akut mastitis, dan
hidrops, sedangkan jika kelumpuhan setelah melahirkan kemungkinan penyakit
pembandingnya yaitu calving paralysis, calving injuri, ruptura ligamen sendi
belakang, septic metritis&vaginitis, ruptura uteri, paralysis obturatorius,
ruptura tendon dan otot, kekejangan otot, toxemia, arthritis akut, dan fraktura
pelvis.
VI
TINDAKAN
A. Secara administratif
Milk
fiver
Tindakan
administraftif harus dilakukan guna mengetahui akibat dari timbul nya penyakit
sehingga dapat di lakukan tindakan pengobatan dengan cepat.seharus nya cepat di
tangani
B.
Pencegahan
Ø Milk fever
Pencegahan
terhadap kejadian milk fever sangat dipengaruhi oleh jumlah kalsium yang dapat
diserap dan bukan pada unsur fosfor atau imbangan Ca:P. Pemberian kalsium
hendaknya sekedar untuk memelihara fungsi faali (2.5 g/100 lb). Yang
ideal jumlah Ca dalam pakan sehari adalah 20 gram saja. Banyak sapi yang
mengalami milk fever oleh pemberian kalsium yang tinggi, tidak terganggu oleh
pembatasan pemberian unsur tersebut. Di daerah yang cukup kandungan
kalsiumnya dalam pakan sehari-hari pemberian mineral blok yang mengandung kalsium-fosfat
tidak dianjurkan untuk sapi yang bunting sarat. Setelah melahirkan
pemberian garam kalsium harus ditingkatkan. Pemberian vitamin D2
20-30 juta IU/hari 3-8 hari pre partus mampu menurunkan kejadian milk
fever. Vitamin D3 sebanyak 10 juta IU yang disuntikkan
intravena sekali saja 28 hari sebelum malahirkan dapt pula menurunkan kejadian
milk fever tanpa diikuti deposisi kalsium dialat-alat tubuh.
C.
Pengobatan
Ø Milk fiver
Pengobatan
dilakukan dengan cara menyuntikkan garan kalsium. Sediaan kalsium yang dipakai
antara lain:· Larutan kalsium khlorida 10% disuntikkan secara intra vena,
pemberian yang terlalu banyak atau terlalu cepat dapat mengakibatkan heart
block.
· Larutan kalsium boroglukonat 20-30% sebanyak 1:1 terhadap berat badan disuntikkan secara intra vena jugularis atau vena mammaria selama 10-15 menit.
· Campuran berbagai sediaan kalsium seperti Calphon Forte, Calfosal atau Calcitad-50
· Larutan kalsium boroglukonat 20-30% sebanyak 1:1 terhadap berat badan disuntikkan secara intra vena jugularis atau vena mammaria selama 10-15 menit.
· Campuran berbagai sediaan kalsium seperti Calphon Forte, Calfosal atau Calcitad-50
pengobatan
pertama dilakukan disaat pada sapi baru ambruk. Obat-oabtan yang
diberikan terdiri dari Calci TAD® 50 (3.10 g Ca-glukonas, 4.29 g Ca
boroglukonas, 1.32 g Ca-Hydroxie, 6.5 g MgCl-6H2O, 0.6 g 2
aminoethyl dyhidrogen phospatase, 0.1 g methyl 4-hydrogen zinx) dosis 150 cc
SC, Hematophan® (Tiap ml mengandung natrium
kakodilat 30 mg, besi (III) ammonium sitrat 20 mg, metionin 10 mg,
histidin 5 mg, triptopan 2.5 md dan vitamin B12 10 mcg) 20 cc IM dan Novaldon®
(Methamphiron 250 mg, Pyramidon 50 mg, lidocaine 15 mg) 25 cc IM. jika
sapi amruk di beri ulang dengan menggunakan Calci TAD® 50
(3.10 g Ca-glukonas, 4.29 g Ca boroglukonas, 1.32 g Ca-Hydroxie, 6.5 g MgCl-6H2O,
0.6 g 2 aminoethyl dyhidrogen phospatase, 0.1 g methyl 4-hydrogen zinx) dosis
150 cc SC, metabolase® (Mengandung I-carnitine hydrochloride, Thioctic acid, Pyridoxine hydrochloride, Cyanocobalamine,
d,I-acetylmethionine, I-argin- ine,
I-ornithine hydrochloride, I-citruline, I-lysin
hydrochloride, Glysine, Taurine,
Aspartic acid,
Glutamic acid, Fruktosa, Sorbitol) sebanyak 250 cc SC. Pada
pengobatan kedua ini sapi tidak menunjukkan perubahan dan kondisinya cenderung
menurun. Hardjopranjoto (1995) mengatakan bahwa pengobatan pada
paresis puerpuralis ditujukan untuk mengembalikan kadar kalsium yang normal
dalam darah. Pengobatan biasanya dipakai preparat kalsium seprti kalsium
boroglukonat yang terdiri dari kalsium boroglukonat 20% sebanyak 250-500 ml
diberikan intravena atau 500 ml intravena dikombinasikan dengan 250 ml
subkutan. Penyuntikan intravena dengan menggunakan jarum 16 g disuntikkan
selama 10-15 menit dimaksudkan agar penyerapan lebih cepat sedang penyuntikan
subkutan bila dikehendaki penyerapannya lambat dan dapat memperbaiki turgor
kulit. Dalam waktu yang sangat singkat kadang-kadang sebelum penyuntikan
selesai dilakukan penderita sudah sanggup berdiri. Apabila setelah
dilakukan penyuntikan dengan sediaan kalsium belum memberikan hasil penderita
perlu dipacu agar bangun dengan jalan dicambuk atau kalau ada dengan electric
coaxer. Electric coaxer dapat pula dipakai untuk mengetahui tingkat
paresis yang terdapat pad anggota gerak (Subronto 2001). Bila kasus ini
disertai hipomagnesemia sebaiknya disuntik dengan kombinasi kalsium
boroglukonat dan magnesium boroglukonat yang terdiri dari kalsium boroglukonat
200 gram, magnesium boroglukonat 50 gram dan aquades sampai 1000 ml selanjutnya
dibuat larutan steril. Dosis pemberian yaitu 200-500 ml secara
intravena. Pada kasus paresis puerpuralis yang disertai ketosis
maka pengobatan dilakukan dengan pemberian kalsium boroglukonat ditambah
dekstrose 5% sebanyak 250-500 ml secara intravena. Bila pengobatan ini
tidak berhasil dapat dicoba pengobatan dengan menggunakan pemompaan (insufflasi)
udar ke dalam keempat kwartir ambing hingga tekanan intra-mamer meningkat dan
menghentikan pengeluaran air susu berikutnya yang berarti menghentikan
penghentian pengurasan unsur kalsium ke dalam ambing. Pengobatan cara ini
dapat diulangi setiap 6-8 jam. Pengobatan dengan cara ini terbukti telah
mengurangi kematian sebesar 15%. Untuk mencegah terjadinya komplikasi
seperti dekubites, gembung perut atau pneumonia maka induk penderita sebaiknya
selalu dibolak-balik dan diberikan jerami yang cukup tebal sebagai alas
berbaring.
Evaluasi
pengobatan dengan penyuntikan kalsium ini diajurkan mendengarkan denyut jantung
dengan stetoskop. Kalau tidak digunakan stetoskop, secara visual dapat
diikuti dengan melihat reaksi penderita, kecepatan pulsus venosus, gerak bola
mata, dan tidaknya eksitasi. Jika terjadi keracunan sediaan kalsium yang
harus segera dilakukan adalah menghentikan penyuntikan, memberikan masase
jantung, memberikan sediaan yang berefek pada jantung (MgSO4, atropin),
dan sediaan yang dapat mengikat (chelating
VII
PERLAKUAN
PEMOTONGAN HEWAN DAN DAGING
Hewan
yang sudah terkena dengan penyakit milk
fever dan leptospirosis
perlakuan pada saat pemotongan :
- Pada saat melakukan pemotongan, terlebih dahulu dibuatkan lubang tempat penampungan darah , bulu ternak tersebut.
- Sesudah melakukan pemotongan, darah dan bulu ternak tersebut harus di kubur atau dibakar. Hal ini bertujuan supaya bakteri tidak menyebar dan ternak lainnya tidak memakan limbah dari pemotongan tersebut.
Perlakuan Daging:
- Dagihng yang sudah dipotong, harus dibersihkan dan dicuci
- Dalam memasak daging yang terkena penyakit leptospirosis, harus pada suhu 90-100ºC, supaya bakteri yang ada dapat dimatikan.
VIII
DAFTAR PUSTAKA
v LEPTOSPIROSIS
·"Serological classification and grouping". The Leptospirosis Information Center. 1 Maret 2009. Diakses pada 12 April 2010.
· Subronto. "1". di dalam Nunung Prajanto (dalam bahasa
Indonesia). Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba pada Anjing dan Kucing
(edisi ke-1). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. hlm. 188-192. ISBN
979-420-611-3.
· Dharmojono.
"1" (dalam bahasa Indonesia). Leptospirosis-Antthrax-Mulut dan
Kuku-Sapi Gila, Waspadailah Akibatnya! (edisi ke-1). Jakarta: Pustaka
Populer Obor. hlm. 1-10. ISBN 979-461
397-5.
· "Penyakit
Dewasa Leptospirosis" (Pdf). Bahagian
Pendidikan Kesihatan Kemintrian Kesihatan Malaysia. 1 Maret 2008. Diakses pada 15 April 2010.
· Yuliarti, Nurheti.
"1". di dalam Agnes Heni Triyuliana (dalam bahasa Indonesia). Hidup
Sehat Bersama Hewan Kesayangan (edisi ke-1). Yogyakarta: Andi Offset.
hlm. 243-250. ISBN
979-763-842-1.
· Priyanto,, Agus (2008).
[http://eprints.undip.ac.id/6320/1/Agus_Priyanto.pdf "Faktor-Faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian
Leptospirosis (Studi Kasus di Kabupaten Demak)"] (PDF). Program Magister
Epidemiologi Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. Diakses pada 15 April 2010.
· "Overview of the leptospira
bacterium itself". The Leptospirosis
Information Center. 1 Maret 2009.
Diakses pada 12 April 2010.
· Directors of health
Promotion and Education. "Leptospirosis". Directors of health Promotion and Education. Diakses pada 15 April 2010.
· WHO (2001). "Water
Related Diseases: Leptospirosis". World Health
Organization. Diakses pada 15 April
2010.
· Hatta M (Maret 2002).
"Detection of IgM to Leptospira Agent with ELISA ang Leptodipstick
Method". Jurnal Kedokteran dan Kesehatan FK Universitas Tarumanegara
1.
· Bovet P (1999).
"Factor Assosiated with Clinical Leptospirosis, A Population Based Control
Study in Seychelles". American Journal Tropical Medicine and Hygiene:
583-590.
· Widarso HS dan Wilfried
(2002). "Kebijaksanaan Departemen Kesehatan dalam Penanggulangan
Leptospirosis di Indonesia". Kumpulan Makalah Simposium Leptospirosis,
Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
· Esen Saban (2004).
"Impact of Clinical and Laboratory Findings on Prognosis in
Leptospirosis". Swiss Medical Weekly: 347-352.
· Widodo Judarwanto
(Agustus 2009) (dalam bahasa Indonesia) (PDF). Leptospirosis
pada Manusia. Jakarta: Allergy Behaviour
Clinic, Picky Eaters Clinic (Klinik Kesulitan Makan) Rumah Sakit Bunda. Diakses pada 18 April 2010.
· Mari Okatini, Rachmadhi
Purwana, I Made Djaja (2007 Juni). "Hubungan
Faktor Lingkungan dan Karakteristik Individu terhadap Kejadian Penyakit
Leptospirosis di Jakarta, 2003-2005."
(dalam bahasa Indonesia) (PDF). Makara, kesehatan. 1 (Jakarta) 11:
17-24. Diakses pada 17 April 2010.
· Farida Dwi Handayani
dan Ristiyanto (dalam bahasa Indonesia) (PDF). Rapid
assessment Inang Reservoir Leptospirosis di Daerah Pasca Gempa Kecamatan
Jogonalan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah..
Jakarta: Litbang Departemen Kesehatan.
Diakses pada 18 April 2010.
· A. Ebrahimi, L. Alijani,
G R Abdollahpour (June 2003). "Serological
Survey of Human Leptospirosis in tribal Areas of West Central Iran" (dalam bahasa English) (PDF). IJMS. 2 28. Diakses pada 17 April 2010.
· Stoddard, Robyn
(2009-07-27). "Other
Infectious Diseases Related to Travel: Leptospirosis". Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 17 April 2010.
Ø
Eldredge, Debra M.
"1". di dalam Beth Adelman (dalam bahasa English). Dog owner’s
Home Veterinary Handbook (edisi ke-4th). Hoboken: Willey Publishing Inc.
hlm. 66-67, 96. ISBN
978-0-470-06785-7.
v MILK
FIVER
Ø
Borsbery, S. and H. Dobson. 1989. Periparturient
diseases and their effect on reproductive performance in five dairy herds. Vet
records 124:217-219
Ø
Correa, M.T., H.N. Erb and J. Scarlett. 1993.
Path analysis for seven postpartum disorders in Holstein cows. J. Dairy Sci.
76:1305-1312
Ø
Curtis, C.R., H.N. Erb, C.J. Sniffen, R.D.
Smith, P.A. Powers, M.C. Smith, M.E. White, R.B. Hilman and E.J. Pearson
(1983). Association of parturient hypocalcemia with eight pariparturient disorders
in Holstein cows. Jour. Of the American Vet. Association. 183:559-561
Ø
Daniel, R.C.W. 1983. Motility of the rumen and
abomasum during hypocalcemia. Can.J.Comp.Med. 47:276
Ø
Erb, H.N. 1987. Interrelationship among
Production and Clinical Disease in dairy Cattle: A Review. CVMA Proceedings.
Can. Vet. J :28(6) 326-329
Ø
Goff, J.P. 2003. Managing transition cow –
consideration for optimising energy and protein balance and immune function.
Cattle practice. 11(2):51-63
Ø
Goff, J.P. and K. Kimura. Metabolic Diseases and
Their Effect on Immun Function.
Ø
Jorgensen,
R.J., N.R. Nyegaard, S. Hara, J.M. Enemark and P.H. Andersen. 1998.
Rumen motility during induced hyper- and hypocalcemia. Acta.Vet.Scand.
39:331-338
Ø
Kamgarpour, R., R.C.W daniel, D.C. Fenwick, K.
McGuigan and G. Murphy. 1999. Postpartum subclinical hypocalcemia and effects
on ovarian function and uterine involution in a dairy herd. Veterinary Journal.
158:59-67
Ø
Kehrli, Jr., M.E. and J.P. Goff. 1989.
Periparturient Hypocalcemia in Cows : Effects on Peripheral Blood Neutrophil
and Lymphocyte Function. J. Dairy Sci. 72:1188-1196
Ø
Kehrli, Jr., M.E., JC. Detilleux and A.E.
Freeman. 1999. Immunosuppression in Dairy Cows at Calving.
Ø
Kehrli, Jr. M.E, B.J. Nonnecke and J.A. Roth.
1989. Alterations in bovine neutrophil function during the periparturient
period. Am.J.Vet.Res. 50:207
Ø
Lee, J.Y and I.H. Kim. 2006. Advancing parity is
associated with high ilk production at cost of body condition and increased
partipatruient disorderss in dairy herds. J.vet.Sci:7(2) 161-166
Ø
Mallard, B.A., J.C. Dekkers, M.J. Ireland. K.E.
Leslie, S. Sharif, C. lacey vankampen, L. Wagter and B.N. Wilkie. 1998.
Alteration in Immune Responsiveness During the Peripartum Period and Its
Ramification on Dairy Cow and Calf Health. Symposium : Bovine Immunology. J.
Dairy Sci. 81:585-595
Ø
Mulligan, F., L. O’Grandy, D. Rice and M.
Doherty. 2006. Production diseases of the transition cow : Milk fever and
subclinical hypocalcemia. Irish Vet Journal. 59(12)697-702
Ø
Peeler, E.T., M.J. Otte, R.J. Esselmont. 1994.
Inter-relationship of periparturient disease in dairy cows. Vet. Rec.
134:129-132
Ø
Triakoso, N dan I. Willyanto. 2001. Hubungan
Hipokalsemia dan Penyakit-penyakit Peripartus Lain pada Sapi Perah : Studi
Kasus KUD Karang Ploso Malang
Ø
Kedokteran Hewan
(ed 5.), Jakarta: Baillière Tindall, 1979, hlm 827-836 (paresis Ibu Bersalin
atau demam susu),. ISBN 0-7020-07-18-8
Ø
^ a
b
Lucien Mahin (1977-2008), Pengamatan tentang
penyakit ternak di Maroko (Data tidak
dipublikasikan)
Ø
Nidermeier, RP; Smith, Vearl R. (1950), "Pengaruh
Inflasi ambing Setelah Tingkat Darah Kalsium, Magnesium dan Phospherous di Sapi
dengan paresis Ibu Bersalin", Jurnal Sains Susu 33: 38-42, doi : 10,3168 /
jds.S0022-0302 (50) 91862-5
Ø
Haalstra, RT (1973), Tijdchrift
voor Diergeneeskunde, 98, hlm 529
Langganan:
Komentar (Atom)




